Apakah kamu pernah melihat toko yang setiap hari terlihat ramai pengunjung, tapi setelah 3-6 bulan kemudian malah tutup? Usut punya usut, salah satu penyebab utama fenomena tersebut didorong oleh obsesi pelaku usaha untuk mengejar pendapatan atau omzet. Padahal, margin keuntungan adalah indikator yang lebih kuat untuk menjaga kelangsungan usaha.
Kalau dilihat di atas kertas saja, pendapatan yang banyak memang terlihat menggiurkan. Namun jika sudah tiba saatnya untuk menggaji karyawan dan membeli bahan baku, di situlah letak ujiannya. Oleh karena itu, kami akan mengulas perbedaan antara pendapatan dengan keuntungan. Yuk simak pembahasan berikut!
Ilusi Pendapatan Besar
Pendapatan, atau sering disebut sebagai revenue atau omzet adalah total pemasukan bruto (kotor) yang dihasilkan oleh suatu usaha. Namun yang jarang disorot adalah, pendapatan ini belum dikurangi biaya, diskon, atau beban pengeluaran apapun. Begitupun dalam struktur laporan keuangan pada umumnya di mana pendapatan menempati posisi teratas (top line).
Agar lebih terbayang, pendapatan bisa dianalogikan dengan air keran dan ember. Bayangkan bisnismu adalah ember, sedangkan pendapatannya adalah air keran yang mengalir deras. Aliran air keran yang masuk adalah pelanggan baru yang mendatangkan omzet, sedangkan volume air di dalamnya adalah basis pelanggan aktif.
Sayangnya, ternyata embermu bocor, yang dalam dunia usaha adalah berbagai bentuk biaya seperti operasional, marketing, gaji, kehilangan basis pelanggan, pengembalian barang, dll. Jika kebocorannya bertambah besar dan tidak bisa ditambal, maka artinya perusahaanmu sedang merugi.
Tidak bisa dipungkiri, jumlah pendapatan yang besar di buku catatan adalah dopamin yang bisa membangkitkan semangat dalam berbisnis. Padahal, total angka tersebut terkadang akan menjadi ilusi yang membuat kita terlena. Oleh karena itu, kita setidaknya harus mengetahui dua jenis pendapatan yang paling dasar:
1. Pendapatan Operasional
Pendapatan operasional berasal dari arus kas yang dihasilkan dari aktivitas inti suatu bisnis. Mayoritas bisnis mendapatkan cashflow dari pendapatan operasional. Kalau kamu memiliki toko retail HP Android, maka setiap hasil penjualan ponsel dan produk lain seperti pulsa atau voucher adalah pendapatan operasionalnya. Jenis omzet ini cenderung bersifat berulang.
2. Pendapatan Non-Operasional
Berbeda dari sebelumnya, pendapatan non-operasional bukan berasal dari inti kegiatan bisnis. Seringkali pendapatan ini bersifat kebetulan atau dadakan, dan cukup jarang terjadi. Contohnya bisa berupa pendapatan dari bunga deposito, keuntungan dari menjual aset bekas, atau dari hasil sewa properti yang tidak terpakai.
Margin Keuntungan Adalah Indikator yang Lebih Baik
Jika revenue adalah air yang masuk ke ember, maka keuntungan adalah sisa air yang tersisa dalam ember setelah semua kebocoran ditambal. Nah, margin keuntungan adalah rasio profit yang dihitung dengan membagi nilai keuntungan dengan total pendapatan, lalu hasilnya harus berbentuk persentase. Ibaratnya, dari air keran yang masuk ember, berapa persen volume air yang akan tersisa dalam ember.
Margin keuntungan sendiri terbagi jadi dua: margin bersih dan kotor. Keduanya sama-sama penting untuk dihitung dan digunakan sebagai acuan, hanya saja konteks penggunaannya berbeda. Berikut adalah rumus perhitungannya:
1. Margin Keuntungan Kotor
Margin ini berfokus pada efisiensi produk dan HPP. Saat kamu menghitung margin ini, maka yang harus dipertimbangkan adalah harga jual dan modalnya. Rumusnya sendiri adalah: (Pendapatan – HPP)/Pendapatan x 100%.
Biasanya margin laba kotor digunakan untuk menetapkan strategi harga atau mengevaluasi berbagai supplier untuk mendapatkan harga bahan baku termurah. Contohnya, kamu menjual kue kering untuk lebaran seharga Rp 50.000, sedangkan HPP-nya (mentega, tepung, gula, dll) sekitar Rp. 30.000
Maka, margin kotornya adalah: (50.000 – 30.000)/50.000 x 100% = 40%. Misal toko lain menetapkan margin kotor sebesar 50%, maka kemungkinan HPP-nya terlalu boros atau harga jualnya yang kemurahan.
2. Margin Keuntungan Bersih
Margin laba bersih bertujuan untuk mengukur efisiensi bisnis secara total. Jika margin laba kotor hanya menghitung HPP atau bahan baku produksi, maka margin ini juga menghitung seluruh biaya operasional mulai dari listrik, internet, sewa tempat, gaji karyawan, dll. Bisa dibilang, margin ini adalah angka mutlak yang menentukan keberhasilan bisnis.
Rumus margin ini sendiri adalah: (Pendapatan – Semua Biaya (HPP + Operasional))/Pendapatan x 100%. Contoh sederhananya, misal margin kotor tadi (40%) ternyata lebih tinggi dari toko lain dan tergolong bagus. Namun setelah dikurangi biaya listrik, gas, dan gaji karyawan, sisa keuntungannya tinggal Rp 5 ribu per pcs.
Dengan begitu, margin bersihnya hanya tersisa: (50.000 – 45.000)/50.000 = 10% saja. Dari situ, kamu bisa mengasumsikan bahwa biaya operasionalnya terlalu mahal seperti gaji karyawan atau penggunaan listrik yang boros.
Contoh Margin Keuntungan
Agar pembahasan lebih menarik, kami akan menyediakan studi kasus sederhana. Anggaplah kamu adalah seorang juragan konter HP dan pulsa. Walaupun potensial, usaha ini memiliki persaingan harga yang ketat karena komoditasnya tergolong standar. Lalu kamu pun menghitung rincian margin kotor untuk pulsa dan ponsel yang terjual sebagai berikut:
- Struktur Margin Pulsa:
- Harga Jual: Rp 101.000.
- Harga Beli (Modal): Rp 99.000 untuk nominal pulsa 100rb.
- Keuntungan per Transaksi: Rp 2.000.
- Margin: 2.000/101.000 x 100% = 1,98%
- Struktur Margin Ponsel (Smartphone):
- Harga Beli HP: Rp 2.800.000.
- Harga Jual HP: Rp 3.000.000.
- Keuntungan: Rp 200.000.
- Margin: 200.000/3.000.000 = 6,6%
Margin profitnya ternyata sangat tipis karena berada di bawah 10%. Itupun belum mencakup biaya operasionalnya seperti listrik, sewa tempat, biaya keamanan, dll. Jadi misal kamu menargetkan laba Rp10 juta per bulan, maka kamu harus bisa mencetak omzet ratusan juta rupiah. Kecuali kamu juga menjual produk lain seperti aksesoris dengan margin lebih tinggi yang laku keras.
Baca Juga: Apakah Usaha Konter HP 2026 Menguntungkan? Ini Potensinya!
Mengapa Pendapatan Kerap Disamakan dengan Keuntungan?
Menyamakan pendapatan dan margin keuntungan adalah hal yang keliru. Sayangnya, hal ini menjadi salah satu penyebab utama kegagalan UMKM di 1-3 tahun pertama operasionalnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini seperti:
1. Bias dalam Memandang Cash
Terdapat pepatah terkenal di dunia bisnis “Revenue is vanity, profit is sanity”. Artinya yaitu “Pendapatan adalah kesombongan, keuntungan adalah kewarasan”. Bagi pengusaha awam, hasil transferan yang masuk sering dianggap sebagai uang bebas, terlebih jika dalam jumlah besar. Makanya tak heran jika orang tersebut bisa merasa jumawa setelah melihat dompetnya terisi penuh.
Tidak hanya itu, hasil transferan tersebut bisa saja adalah uang supplier yang belum dibayar (karena dicicil). Di sisi lain, konsumen yang sudah bayar mungkin juga baru setengahnya, karena yang lain membayar secara kredit. Tentunya dengan menganggap uang transferan yang masuk ini sebagai dana pribadi akan berisiko pada gagal bayar saat semua tagihan sudah jatuh tempo.
2. Kurangnya Pembukuan yang Memadai
Tantangan lain yang sering dihadapi UMKM adalah memisahkan dana pribadi/keluarga dan usaha, yang praktiknya bisa berakhir pada keputusan finansial yang ceroboh. Alasan utama pemisahan dana ini enggan dilakukan disebabkan oleh rumitnya proses pembukuan. Namun tenang saja, karena sekarang ada aplikasi pembukuan dari PaYou yang dapat membantu seluruh pencatatan keuangan UMKM!
Masih ingat bagaimana margin keuntungan dihitung dari pendapatan dan beban HPP/operasional? Nah, aplikasi pembukuan dari PaYou akan mencatat seluruh kas masuk dan keluar yang akan memudahkanmu dalam menghitung rasio laba.
Bahkan, PaYou juga memiliki fitur pembuatan nota, sehingga setiap transaksi yang dilakukan juga akan tercatat secara otomatis. Bukan hanya itu, aplikasi pembukuan dari PaYou juga terintegrasi secara digital, jadi penggunaannya akan sangat mudah dan efisien. Biar usaha jadi tambah lancar, yuk gunakan aplikasi pembukuan dari PaYou sekarang!
Baca Juga: Aplikasi Pembukuan Terbaik : Mengoptimalkan Pengelolaan Bisnis
Kesimpulan
Dalam banyak kasus, margin keuntungan adalah indikator yang lebih nyata untuk kelangsungan bisnis. Pendapatan mungkin bisa menandakan pertumbuhan, tapi keuntungan adalah nyawa dari setiap bisnis. Setelah membaca ulasan ini, apakah ada yang tertarik membagikan pengalamannya dalam menghitung margin keuntungan? Share di kolom komentar ya!