Pangsa pasar bisnis rental mobil di Indonesia diproyeksikan akan tumbuh sekitar 7,4% hingga tahun 2032 mendatang. Perkiraan itu tidak bisa dilepaskan dari menggeliatnya sektor pariwisata pasca pandemi. Dengan tingginya permintaan akan penyewaan mobil, maka tak heran jika banyak orang yang ingin merasakan ‘kue’ pertumbuhan segmen ekonomi ini.
Membuka usaha rental mobil sendiri sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Dengan satu unit mobil pun kita sudah bisa langsung menyewakannya. Yang menjadi tantangan terbesar adalah bagaimana cara kita mengelola bisnis rental ini agar bisa bertahan dan terus berkembang.
Pada kali ini, kami akan membahas potensi bisnis rental mobil di Indonesia jika dibarengi dengan manajemen yang baik. Simak pembahasan berikut!
Potensi Bisnis Rental Mobil
Saat mulai menggeluti usaha di bidang apapun, kita harus tahu terlebih dahulu segmentasi pasarnya, dan rental mobil bukanlah pengecualian. Namun, setidaknya target pasar rental mobil bisa dikerucutkan jadi dua segmen besar: B2B (Business-to-Business) dan B2C (Business-to-Consumer). Berikut adalah penjelasan potensi masing-masing segmennya:
1. Segmen Pasar B2B
Sesuai namanya, usaha B2B adalah jenis bisnis yang mengutamakan transaksi barang/jasa dengan perusahaan lain, bukan dengan konsumen individu. Begitupun dengan rental mobil, di mana pemilik rental bisa menyewakan mobilnya ke suatu perusahaan tertentu. Terlebih lagi, tidak sedikit perusahaan yang lebih memilih menyewa mobil untuk kebutuhan operasional dari pada menyimpan aset mobil sendiri.
Keengganan perusahaan untuk menyimpan aset mobil sendiri disebabkan oleh beban modal yang besar di awal. Modal ratusan juta atau milyaran yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang produktivitas usaha cenderung akan sia-sia jika hanya untuk membeli mobil yang tidak setiap hari dipakai.
Hal itu tentunya menjadi ceruk pasar tersendiri bagi pelaku usaha rental mobil. Beberapa rental biasanya menyediakan mobil MPV (Multi-Purpose Vehicle) dan sedan untuk disewakan ke berbagai perkantoran. Mobil yang disediakan tidak hanya harus unggul secara performa, tapi juga dari estetika untuk menjaga citra perusahaan yang menyewa.
Di sisi lain, industri pertambangan, logistik, atau konstruksi cenderung membutuhkan mobil 4×4 double cabin. Hal ini disebabkan karena medan yang dihadapi industri tersebut cenderung lebih terjal, sehingga membutuhkan mobil yang tangguh dengan roda belakang yang bisa terus berputar di segala medan. Selain itu, industri pertambangan/migas juga memiliki standar yang ketat dalam menggunakan mobil untuk operasionalnya.
Jika kamu memiliki mobil dari berbagai jenis, maka itu akan menjadi keuntungan tersendiri. Terlebih lagi jika kamu juga mampu menyediakan jasa modifikasi baik dari segi tampilan atau mesin untuk disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan penyewa.
2. Segmen Pasar B2C
Di celah pasar B2B, jika ada perusahaan yang sudah menyewa dari suatu rental mobil, maka kemungkinan besar mereka akan menyewa lagi secara berulang. Dengan kata lain, potensinya cukup stabil selagi sudah mampu menjaring perusahaan yang terpuaskan.
Lain halnya dengan segmen B2C, di mana volume transaksinya cenderung tinggi, tapi durasinya pendek. Segmen ini sangat bergantung pada sektor pariwisata. Bisa dikatakan bisnis ini cenderung lebih menguntungkan di daerah dengan potensi pariwisata yang cerah seperti Bali, Jogja, Malang Raya, dll.
Preferensi penyewa saat ini cenderung berfokus pada kenyamanan instan, di mana tepat ketika mereka menyewa mobil, mereka ingin agar mobil tersebut bisa langsung dipakai di hari itu juga. Oleh karena itulah, banyak pelaku rental mobil yang mulai go digital agar layanannya lebih cepat dan transparan. Namun, untuk membuka layanan rental mobil secara digital membutuhkan manajemen yang baik.
Baca Juga: Sistem Bengkel: Aplikasi Bengkel berbasi Cloud lengkap
Tips Manajemen Rental Mobil
Kesuksesan bisnis rental mobil bukan hanya diukur dari besarnya omzet yang masuk ke rekening, tapi juga lewat pengelolaan keuangan yang tepat guna. Berikut ini kami telah merangkum tips mengelola keuangan rental mobil dengan baik:
1. Tetapkan Komponen HPP yang Tepat Sasaran
Di dunia rental mobil, HPP (Harga Pokok Penjualan) mengacu pada biaya langsung layanan, atau biaya yang harus kamu keluarkan agar mobil siap jalan ketika ada pesanan. Jadi, sejumlah biaya porsi HPP harus bisa dicover oleh harga sewa. HPP sendiri bisa ditetapkan dan dihitung secara tahunan.
Lantas, mengapa harus dalam periode waktu tertentu (tahunan/bulanan)? Logikanya, mobil yang kita sewakan adalah aset bergerak. Bahkan di setiap kilometer yang ditempuh pasti ada bagian dari mobil yang terdepresiasi nilainya seperti ban yang makin tipis, oli tambah kotor, masa berlaku STNK berkurang, dll. Setidaknya, HPP rental mobil harus meliputi komponen berikut:
- Penyusutan Harian: Nilai mobil yang hilang setiap hari baik ketika mengaspal atau tidak.
- Biaya Bunga: Jika armada yang disediakan dibeli secara kredit, maka porsi bunga dan cicilan bulanan adalah biaya yang harus ditutup oleh harga sewa. Namun perlu diingat bahwa menyewakan mobil kredit harus berhati-hati karena asetnya masih dimiliki pihak leasing, sehingga membutuhkan izin dari yang berkepentingan.
- Asuransi: Premi asuransi tahunan harus dibagi dengan target jumlah hari penyewaan.
- Maintenance: Biaya perawatan seperti servis berkala dan harus dikonversi ke dalam skala harian.
- Pajak Kendaraan: Ini adalah biaya perpanjangan STNK tahunan yang juga harus dihitung secara harian.
2. Hitung Harga Sewa secara Akurat
Setelah mengetahui apa saja komponen HPP, maka jangan lupa juga untuk menghitung harga sewa. Nah, harga sewa sendiri bisa dihitung secara harian dengan rumus: HPP + target laba/Target jumlah hari penyewaan. Kami akan mengilustrasikan hitung-hitungan kasarnya agar lebih jelas.
Asumsikan bahwa kamu memiliki mobil yang sudah lunas dan ingin disewakan. Setelah dihitung-hitung, HPP-nya meliputi:
- Penyusutan mobil: Rp 25.000.000
- Pajak STNK dan Asuransi: Rp 8.000.000
- Servis Rutin: Rp 5.000.000
- Total biaya: Rp 38.000.000
Di sini, kamu menargetkan laba bersih sebanyak Rp24 juta untuk tahun pertama. Karena masih baru, tentunya akan sangat sulit jika mobil bisa disewa selama 365 hari penuh. Maka dari itu, kamu menargetkan agar mobil bisa laku setidaknya 18 hari/bulan atau 216 hari/tahun.
Nah, kamu bisa hitung rumus harga sewanya jadi: Rp 38 juta (HPP) + Rp 24 juta (target laba)/216 hari. Maka, kira-kira harga sewanya kira-kira adalah Rp 287 ribu sehari. Kamu bisa membulatkannya menjadi Rp 300 ribu.
3. Siapkan Dana Darurat
Setiap jenis usaha sebaiknya memiliki dana darurat yang berfungsi sebagai sandaran ketika ada kendala eksternal secara tiba-tiba. Karena ada saja kejadian tak terduga yang bisa membuat biaya bengkak atau memangkas keuntungan secara drastis seperti pandemi global, bencana, hingga kecelakaan beruntun. Dana darurat yang ideal hendaknya dapat menutupi 3-6 bulan dari total HPP tahunan.
4. Kelola Bisnis Rental Mobil Berbasis Data
Layaknya bisnis lain, kerugian rental mobil sering kali juga disebabkan karena kurangnya pemahaman data secara riil pada mobil yang disewakan. Padahal, data sangatlah krusial bagi pemilik rental mobil, bahkan untuk yang baru terjun sekalipun. Beruntungnya, PaYou memiliki produk pengelolaan bisnis rental yang handal dan akurat bernama PayRent.
Fungsi utama PayRent sendiri adalah mengelola database kendaraan, angsuran kredit, asuransi, hingga jadwal perawatan. Dengan PayRent, kamu bisa melacak seluruh riwayat penyewaan, sehingga tidak perlu khawatir lagi akan risiko kehilangan data. Sistem invoicenya pun sangat terintegrasi, jadi kesalahan kode pesanan bisa diminimalisir.
Bukan hanya itu, seluruh transaksimu juga akan tercatat secara otomatis. Jadi kamu tidak perlu repot input data di Excel hingga berjam-jam yang sarat akan risiko. Semua mekanisme ini bisa dilakukan dengan mudah dan efisien, bahkan bagi yang cukup awam teknologi sekalipun. Makanya, segera gunakan aplikasi PayRent untuk kelola rental mobil yang lebih sehat!
Baca Juga: Aplikasi POS Rental: Memaksimalkan Keuntungan Bisnis
Kesimpulan
Potensi bisnis rental mobil ternyata masih cukup menjanjikan, setidaknya di tahun 2026 mendatang. Namun, potensi itu hanya bisa diraih dengan mengetahui segmen pasar yang tepat dan manajemen yang bijak. Setelah membaca ulasan ini, apakah ada yang tertarik untuk menyewa atau membuka rental mobil? Jawab di kolom komentar ya!