Di dunia bisnis rental mobil, jadwal sewa bisa saja selalu padat dengan mobil yang terus mengaspal tiap hari. Namun saat rekap laporan akhir bulan, ternyata saldo di rekening usaha hanya tersisa sedikit sekali. Fenomena ini disebabkan salah satunya karena kurangnya pemahaman akan cara menghitung untung rugi bisnis rental.
Terlebih lagi pada rental mobil, di mana jadwal booking yang selalu penuh dengan omzet yang mengalir deras terlihat sangat menggiurkan. Namun, kondisi seperti itu terkadang hanyalah kepuasan sesaat, karena omzet/revenue tersebut masih harus dipotong biaya operasional yang sangat tinggi.
Oleh karena itu, kami akan mengupas tuntas cara menghitung untung rugi bisnis rental. Yuk simak ulasan berikut!
3 Jenis Uang dalam Bisnis Rental
Bisnis rental memiliki struktur yang lebih kompleks dari pada toko retail atau kelontong pada umumnya. Bahkan jenis pendapatan dan biayanya pun berbeda-beda.
Nah, jenis-jenis uang masuk dan keluar ini harus dipahami agar dalam pencatatannya tidak tertukar, dan perhitungan pun akan lebih rapi. Berikut adalah klasifikasinya:
1. Pendapatan (Revenue)
Revenue atau omzet adalah total arus kas masuk yang dihasilkan langsung dari utilisasi aset tetap milik rental. Pendapatan ini sendiri terbagi jadi dua model, yaitu model lepas kunci dan juga model all-in.
Model lepas kunci murni berasal dari penyewaan unit kendaraan tanpa elemen tambahan apapun. Di daerah yang cukup menggeliat industri pariwisatanya seperti Malang Raya, harga sewa mobil seperti Toyota Innova Reborn dengan model ini berkisar antara Rp 450 ribu sampai Rp 500 ribu per hari.
Model lepas kunci memiliki struktur biaya yang lebih sederhana karena tidak menanggung biaya operasional pengemudi.
Di sisi lain, model all-in menggabungkan sewa mobil, jasa pelayanan, dan biaya energi. Pendapatan model ini cenderung lebih besar, tapi biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit seperti bahan bakar dan upah pengemudi.
Baca Juga: Aplikasi Rental Mobil Berbasis Web dengan PaYou Rental
2. Biaya Variabel
Biaya variabel hanya dikeluarkan ketika mobil mengaspal, sedangkan jika diparkir di garasi tidak ada biaya yang dikeluarkan. Dalam manajemen rental, biaya ini yang paling sering bengkak. Contoh dari biaya ini di antaranya:
- Bensin: BBM merupakan biaya variabel terbesar, sehingga efisiensi bahan bakar jadi kunci utama magin laba.
- Jasa Pengemudi: Biaya yang dikeluarkan bukan upah saja, tapi juga uang makan dan kadang rokok. Namun pada paket all-in, beberapa penyewa tidak menanggung uang makan pengemudi, tapi upahnya biasanya lebih besar.
- Kebersihan: Biaya cuci mobil bisa menghabiskan sekitar Rp30-150 ribu, bergantung pada jenis pencuciannya. Disarankan untuk mengambil paket cuci mobil yang terjangkau, kecuali unitnya bersifat premium.
- ·Maintenance: Pemeliharaan mobil seperti ban, oli, dan servis berkala sama sekali tidak boleh dilupakan. Biaya ini harus dihitung per kilometer, dan dialokasikan setelah menerima pembayaran, bukan setelah kerusakan terjadi.
3. Biaya Tetap
Biaya inilah yang harus dikeluarkan meskipun mobil berdiam di garasi. Salah satu biaya tetap yang jarang disadari adalah depresiasi aset, di mana data menunjukkan mobil di Indonesia mengalami penurunan nilai sekitar 15-20% pada tahun pertama.
Selain itu ada Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang alokasinya harus dibagi 12 bulan dalam perhitungan bulanan untung rugi bisnis rental. Lalu yang juga tidak boleh ketinggalan adalah asuransi aset.
Jika kamu ingin memodif mobil rental, seperti menambah GPS, maka ada lagi biaya yang harus dikeluarkan dari pemasangan hingga langganannya.
Cara Menghitung Untung Rugi Bisnis Rental
Sesudah memahami apa saja jenis uang pada bisnis rental, barulah kita bisa menghitung untung ruginya. Setidaknya, ada tiga jenis laba yang harus dihitung pada bisnis rental seperti berikut:
1. Laba Kotor
Laba kotor dihitung dengan mengurangi total revenue dengan total biaya variabel, yang digunakan untuk mengukur efisiensi langsung dari setiap transaksi sewa.
Total revenue sendiri mencakup: (Tarif sewa harian x Jumlah hari sewa) + (Biaya overtime). Sedangkan biaya variabel mencakup: (BBM) + (Jasa driver + makan) + (Biaya cuci) + (Cadangan ban per kilometer x Jarak tempuh) + (Cadangan servis per kilometer x Jarak tempuh).
Jika laba kotor rendah atau negatif, maka ada masalah fundamental pada penetapan harga, atau terdapat kebocoran pada biaya operasional jalan. Laba kotor yang sehat idealnya adalah 70-80% dari revenue untuk model lepas kunci.
2. Laba Operasional
Laba operasional mengukur kesehatan operasional bisnis secara keseluruhan dengan mengurangi laba kotor dengan total biaya tetap. Biaya tetap ini mencakup:
- Amortisasi pajak STNK.
- Amortisasi asuransi.
- Biaya langganan GPS.
- Gaji admin/staff (kalau ada).
- Sewa lahan/garasi (kalau ada).
- Biaya pemasaran.
Jenis laba ini adalah indikator cashflow operasional yang lebih nyata. Pengusaha sering terkecoh di sini, di mana laba operasional terlihat besar. Padahal angkanya belum dikurangi cicilan atau penyusutan aset.
3. Laba Bersih
Laba bersih menggambarkan keuntungan riil yang berhak diambil pemilik bisnis, karena sudah memperhitungkan depresiasi dan cicilan. Cara menghitungnya sendiri adalah: Laba operasional — (Depresiasi + Bunga pinjaman).
Jika laba bersihnya negatif, maka bisnis rental belum benar-benar bisa dikatakan sukses, karena pada dasarnya mereka sedang memakan modalnya sendiri.
Cara Menghitung Biaya Menganggur
Biaya menganggur, atau sering disebut sebagai idle cost adalah kerugian yang terakumulasi setiap detik mobil terparkir di garasi tanpa menghasilkan revenue.
Konsep biaya menganggur sedikit berbeda dengan biaya tetap. Biaya tetap seperti pajak atau depresiasi akan tetap tercover selama masih ada volume orderan yang sehat dalam periode tertentu, sehingga jatuhnya adalah biaya modal biasa.
Di sisi lain, biaya tetap bisa jadi biaya menganggur ketika tidak ada pemasukan sama sekali dalam waktu lama. Di sinilah biaya tetap berubah sifatnya menjadi kerugian.
Biaya menganggur sendiri dihitung secara harian dengan rumus: (Total biaya tetap bulanan + Depresiasi bulanan + Biaya bunga bulanan)/30 hari.
Baca Juga: Aplikasi POS Rental: Memaksimalkan Keuntungan Bisnis
Menghitung Laporan Laba Rugi Jadi Lebih Mudah dengan PaYou!
Setelah membaca ulasan di atas, kita jadi paham bagaimana banyaknya variabel yang harus dihitung dalam menghitung untung rugi bisnis rental. Bayangkan jika semuanya harus dicatat dan dihitung secara manual, pasti akan sangat melelahkan bukan?
Oleh karena itulah PaYou menghadirkan modul yang dirancang khusus untuk usaha rental yang bernama PayRent! Sistem dalam PayRent terintegrasi secara mendalam mulai dari manajemen kendaran, suku cadang, bahkan hingga keuangan.
Bukan cuma itu, PayRent juga menyediakan fitur pengingat yang akan memberikan notifikasi jatuh tempo pada asuransi dan juga cicilan.
Laporan cashflow pada PayRent bisa dikategorikan secara spesifik seperti berdasarkan kendaraan atau supir. Detail kendaraannya pun juga bisa dijadikan laporan yang rinci seperti penggunaan suku cadang, pengeluaran, atau pendapatan berdasarkan kendaraan.
Bagi yang pertama kali ingin go-digital, jangan khawatir karena aplikasi PayRent sangat mudah digunakan, bahkan untuk orang awam sekalipun. Kamu pun juga bisa meminta kustomisasi khusus untuk disesuaikan dengan kebutuhan usaha.
Jadi tunggu apa lagi? Ayo segera gunakan aplikasi PayRent dari Payou!
Kesimpulan
Industri rental mobil menawarkan peluang yang cukup besar, tapi juga penuh dengan tantangan dan jebakan finansial bagi yang kurang berhati-hati. Guna menanggulangi tantangan tersebut, penting bagi kita untuk memahami cara menghitung untung rugi bisnis rental serta beralih ke sistem aplikasi yang lebih modern.