Suatu hari, motormu mogok di tengah-tengah gang, lalu kamu mampir ke bengkel terdekat di luar gang. Setelah semuanya beres, kamu terkesima karena pelayanan dan hasilnya jauh lebih bagus dari pada bengkel yang biasanya kamu kunjungi. Padahal, usaha bengkel yang ini terlihat sangat sepi dibanding tempat servis motor yang biasanya. Terlebih lagi, saat itu hari Sabtu pagi yang harusnya bengkel lebih ramai.
Akhirnya kamu menyadari bahwa hal tersebut disebabkan oleh lokasi yang strategis. Bengkel yang sebelumnya bisa saja kualitas dan pelayanannya tidak sebaik yang satunya lagi. Namun, berkat lokasi yang strategis, bengkel tersebut tidak pernah sepi pengunjung. Kali ini, kami akan membahas seluk-beluk lokasi yang strategis untuk bengkel.
Jenis Usaha Bengkel
Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih dalam, akan sangat penting untuk mengenali apa saja jenis bengkel itu sendiri. Layaknya bidang lain, bengkel juga memiliki ciri-ciri dan kebutuhan lokasi yang berbeda. Tak jarang pemilik bengkel harus gulung tikar karena tidak memahami jenis-jenis bengkel terlebih dahulu. Berikut ini adalah jenis bengkel yang paling umum:
1. Bengkel Resmi
Bengkel resmi, atau sering disebut sebagai APM (Agen Pemegang Merk) adalah jenis bengkel dengan model bisnis yang sangat rapi. Kalau kamu pernah pergi ke AHASS atau Auto2000, maka itu adalah contoh bengkel resmi. Standar bengkel ini sangat ketat mulai dari peralatan, kemampuan mekanik, hingga penggunaan suku cadang asli.
Karena itu, bengkel resmi cenderung memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi saat memilih lokasi. Biasanya orang akan pergi ke bengkel yang dekat rumah atau yang dekat dari lokasi saat kendaraan mogok. Namun, bengkel resmi memang menawarkan kualitas dan garansi yang terjamin, sehingga orang-orang akan rela menempuh jarak jauh untuk datang ke sini.
2. Bengkel Umum
Bengkel umum merupakan jenis yang paling sering ditemui. Keunggulan bengkel umum terletak pada harganya yang fleksibel hingga kedekatan dengan pelanggan yang lebih personal. Bengkel ini juga mampu menangani berbagai merk kendaraan karena tidak terikat pada satu merk.
Lain halnya dengan bengkel resmi, bengkel umum sangat bergantung pada lokasi. Tidak sedikit orang datang ke bengkel tanpa direncanakan, misal karena tiba-tiba ban bocor atau kempes. Karena itulah, bengkel umum yang ramai pengunjung biasanya berlokasi sangat dekat dari jalan raya. Lokasi yang agak terpencil seperti dalam gang atau tertutup pohon cenderung kurang menguntungkan.
3. Bengkel Spesialis
Bengkel spesialis bukan menawarkan servis atau ganti suku cadang seperti biasanya,. Contoh dari bengkel ini adalah bengkel khusus AC, dinamo, kaki-kaki, cat, hingga modif motor. Bisa dikatakan, target pasar dari bengkel ini cukup eksklusif, sehingga pemilihan lokasinya bisa cukup fleksibel.
Misalnya, pecinta modif motor gede atau pegiat mobil jadul pasti rela mencari bengkel spesialis ini meskipun letaknya agak tersembunyi. Ramai tidaknya bengkel ini sering kali bergantung pada reputasi mekanik atau lewat word of mouth.
Baca Juga: Sistem Keuangan Bengkel : Menjaga Keseimbangan Keuangan
Hindari Lokasi Median Jalan
Di jalan raya utama kota atau kabupaten dengan ukuran yang cenderung lebih besar, pasti kita sering melihat pemisah jalan di tengah-tengahnya bukan? Kadang pemisah jalannya dibatasi pagar beton, atau bisa juga hanya berupa garis. Nah, pemisah ini disebut sebagai median jalan.
Fungsi dari median jalan sendiri adalah memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan. Kadang pemisah jalan ini juga dipasang lampu penerangan. Tak jarang median jalan ini berbentuk fisik dan ditinggikan dengan beton (kerb), aspal, atau tanaman. Yang pasti, dengan adanya median fisik, pengendara tidak bisa putar balik sampai ujung median, kecuali di tengah-tengah jalan ada median yang dibuka.
Lantas, apa pengaruhnya bagi bengkel? Begini, coba bayangkan jalan yang tidak ada median, di mana kamu bisa berancang-ancang untuk putar balik di setiap titik jalan. Namun, tidak demikian dengan jalan bermedian. Jika bengkelmu terletak di tengah-tengah median jalan, maka pengendara dari ruas sebelah harus putar balik cukup jauh untuk menjangkau bengkelmu. Hal itu tentunya bukanlah hal yang menguntungkan karena beberapa faktor seperti:
1. Faktor Psikologi Konsumen
Kalau di sini ada yang pernah belajar geografi ekonomi, marketing, atau perencanaan kota dan wilayah, pasti sudah tidak asing lagi dengan teori perilaku konsumen spasial. Singkatnya, teori ini menjelaskan konsep hambatan jarak, di mana konsumen tidak ingin mengeluarkan usaha besar untuk mendapatkan produk atau layanan yang sifatnya sama di mana-mana (komoditas).
Dalam hal ini, pelayanan bengkel seperti ganti oli, tambah angin, atau tambal ban adalah komoditas karena standarnya sama di setiap bengkel. Dengan begitu, menempuh ratusan meter guna berputar balik untuk ganti oli hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Kecuali bengkelmu memang memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dan terkenal dibanding kompetitor.
2. Faktor Berangkat Kerja
Perilaku orang saat jam-jam berangkat kerja atau sekolah (jam 6-9) ternyata juga berpengaruh terhadap keuntungan suatu bengkel. Di waktu ini, orang cenderung lebih buru-buru agar tidak terlambat masuk kantor atau sekolah, sehingga mereka tidak akan menoleransi waktu tunggu yang lama.
Nah, bengkel di jalan bermedian, di ruas yang lebih sering dilalui orang berangkat kerja biasanya hanya didatangi karena kondisi darurat seperti mogok, aki soak, ban bocor, dll. Jika bengkelmu berada di ruas ini, maka pastikan stok yang bersifat fast-moving harus terisi penuh seperti ban dalam, busi, atau aki. Jika tidak, maka pelanggan harus menunggu lebih lama di jam berangkat kerja.
Buka Bengkel di Dekat Bengkel Lebih Baik
Ya, kamu tidak salah baca. Salah satu lokasi terbaik untuk membuka usaha baru sebenarnya adalah dekat kompetitor. Kamu pasti sering bukan melihat indomaret dan alfamart yang sering ada secara bersebelahan, padahal produk dan harganya hampir sama semua? Kalau dilihat-lihat, keduanya bahkan sama-sama ramai. Nah, hal ini juga berlaku di dunia bengkel!
Kalau kamu tinggal di sekitaran Jakarta, khususnya di daerah Kemayoran, Cipete, atau Atrium Senen, pasti kamu sering melihat banyak sekali bengkel yang jual suku cadang. Ini menjadi contoh bahwasannya lokasi yang penuh dengan kompetitor justru memiliki daya tarik yang sangat tinggi. Lantas, mengapa bisa demikian? Berikut adalah alasannya:
1. Efisiensi Target Pasar
Orang yang memiliki masalah pada kendaraannya sering kali tidak tahu persis letak masalahnya, atau di mana bengkel yang menjual suku cadangnya. Namun dengan pergi ke sentra otomotif, pasti peluang untuk mengatasi masalah kendaraannya jauh lebih besar. Dengan begitu, biaya untuk marketingnya juga jadi lebih rendah, karena kawasan itu sendiri sudah jadi magnet bagi konsumen.
2. Simbiosis Sesama Bengkel
Dua unit usaha berbeda dengan niche yang sama tidak harus selalu bersaing. Kadang, mereka juga bisa mendapat simbiosis yang saling menguntungkan. Misal di satu kawasan ada bengkel jasa servis dan suku cadang. Maka, kamu bisa membuka bengkel spesialis, misal untuk modif mobil-mobil klasik.
Dengan begitu, pemilik bengkel yang satunya tidak harus jauh-jauh, misal untuk mencari suku cadang mobil tua Eropa. Mereka hanya perlu menyebrang jalan untuk membeli sparepartnya dari bengkelmu. Bengkel spesialis sendiri memang menjadi nilai tambah di kawasan yang sudah ada bengkelnya.
Baca Juga: Aplikasi Bengkel Mobil untuk Mencatat Sparepart dan Keuangan
Kesimpulan
Usaha bengkel dengan manajemen dan teknisi yang berkualitas memang sangat penting. Namun, faktor pemilihan lokasi yang strategis juga tidak kalah penting.. Lokasi yang tepat juga akan membuat balik modal lebih cepat. Setelah membaca ulasan ini, ada yang terinspirasi untuk buka bengkel sendiri? Jawab di kolom komentar ya!